Menteri Pendidikan Mohammad Nuh mengatakan, ini kali keduanya, Bahasa Indonesia menjadi pelajaran tersulit. Hasil ini harus ditelusuri penyebabnya. "Sebab bila pada matematika banyak yang tidak lulus, itu mungkin bisa dimaklumi. Tapi kalau Bahasa Indonesia ini harus dicari tahu. Kenapa lebih banyak yang lulus di Bahasa Inggris," katanya kepada dalam konferensi pers analisis hasil UNI, pada 20 Mei lalu di Kemdiknas.
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemdiknas, Mansyur Ramly mengatakan, faktor penyebab ketidaklulusan siswa untuk Bahasa Indonesia disebabkan minimnya kemampuan siswa untuk memahami bacaan. "Kebiasaan siswa untuk membaca artikel panjang kemudian mendapatkan maknanya masih kurang. Soal Bahasa Indonesia banyak diawali bacaan sehingga pertanyaan yang muncul terkait bacaan," jelasnya. Mansyur berharap, para guru Bahasa Indonesia dapat melatih siswa untuk belajar membaca cepat, dan memahami makna dari bacaan.
Hasil tahun ini juga menunjukkan, Papua menjadi propinsi dengan kelulusan UN terendah di mata pelajaran matematika. Secara keseluruhan, nilai sekolah peserta didik di propinsi Papua sudah berada di bawah 5,5. Indikasinya, kurang maksimalnya daya serap siswa dalam memahami konsep-konsep matematika yang diajarkan sehari-hari. Bahkan dari 25 kemampuan yang diuji dalam UN Matematika, secara merata berada di bawah bobot nilai 50, hanya satu topik yang mendapatkan bobot nilai di atas 70.
sumber: http://www.kemdiknas.go.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar